a tiny piece of Flores [2/3]

Mei 24-26, 2015. Hari ke 4 sampai ke 6.

Esok paginya dimulailah saya berjalan untuk menaiki bukit untuk sampai di desa Wae Rebo. Perjalanan ini harus dilakukan bersama seorang pemandu. Pemandu ini ikut bukan karena dia baik atau gratis, bukan. Kita harus bayar untuk pemandu ini yang ditunjuk Pak Blasius, dan kita harus registrasi di tempat Pak Blasius sebelum melanjutkan, dan tarif untuk 1 sampai 4 orang itu sama. Karena saya sendiri, ya jadi saya bagi sama diri sendiri. Untuk kelompok diatas 4 orang, seingat saya, akan ada tambahan lagi untuk biaya pemandunya. Perjalanan kurang lebih 3 atau 4 jam, sampailah saya di Wae Rebo.

Sesampainya di Wae Rebo, kita akan disambut oleh ‘ketua RT-nya’ desa Wae Rebo dan akan diadakan upacara penyambutan yang dimaksudkan untuk mendoakan kita dari datang sampai pulang lagi agar selamat. Upacara hanya akan berlangsung sekitar 15 menit. Disini saya bertemu seorang pemandu wisata dari Slovakia yang sudah lebih dari 10 kali ke Wae Rebo dan beberapa daerah di Indonesia. Saya bertemu dia lagi sewaktu saya di Bratislava, Slovakia. Saya sudah merencanakan untuk bermalam di Wae Rebo dari jauh hari, walau saya tau harga di Wae Rebo sudah mulai sangat dikomersialkan. Untuk yang ingin bermalam, disana ada 1 rumah yang cukup menampung lebih dari 30 orang sekali waktu dan memang dipakai untuk ‘wisatawan’ / ‘turis’ yang ingin merasakan menginap. Makan malam dan pagi untuk esok hari juga akan disediakan dari warga Wae Rebo, tapi jangan bayangin makanan seperti hotel bintang 5, salah tempat berarti.

Menikmati kopi dari perkebunan di Wae Rebo dan mandi di aliran air terjun bersama para pemandu dan porter sedangkan pelancong yang lain mandi di air terjun yang memang dikhususkan untuk mereka, saya lakukan di hari saya tiba di Wae Rebo. Selebihnya hari itu saya habiskan untuk mengambil gambar, duduk santai dan mengobrol. Dari obrolan, pertama, dikatakan bahwa asal usul penduduk Wae Rebo itu berasal dari tanah Minang yang berlayar karena lari sekitar 1000 tahun yang lalu. Kedua, ada juga yang mengatakan bahwa memang penduduk Wae Rebo adalah orang-orang asli Flores yang sudah lama mendiami tempat ini. Ketiga, ada lagi versi lain dari asal usul penduduk Wae Rebo. Namun, cerita pertama yang dipakai sebagai cerita asal usul Wae Rebo.

Saya sangat menyukai langit malam yang bersih dari awan dan gangguan polusi cahaya. Ketika itu terjadi, langit yang pekat ditambah sungai susu bertaburan bintang, duh. Wae Rebo menyajikan hal itu, walau genset digunakan untuk menyalakan beberapa lampu dan sumber listrik bagi yang membutuhkan, namun tidak begitu membuat polusi cahaya. Jujur bagi saya, saya lebih menikmati tanpa bunyi getaran dari genset dan juga listrik yang dihasilkan, karena itu yang saya cari. Tapi tidak bisa dipungkiri, mereka, warga Wae Rebo, butuh, juga untuk ‘wisatawan’. Jadi ya dinikmati saja. Saatnya terpejam dan mengistirahatkan mata dan juga badan.

Malam semakin malam, dan pagi menjelang. Saya harus meninggalkan Wae Rebo dan kembali ke Labuan Bajo untuk melanjutkan agenda selanjutnya. Berpamitan kepada ‘ketua RT-nya’ Wae Rebo, lalu sesampainya di Denge lagi berpamitan dengan Pak Blasius, dan saya pun kembali meng-aspal dengan motor menuju Labuan Bajo. Bukan perjalanan yang sebentar untuk mencapai Labuan Bajo, karena sewaktu berangkat saya menghabiskan kurang lebih 7 jam.


 

 

This slideshow requires JavaScript.


Setelah meng-aspal kurang lebih 6 jam diterpa panas matahari, diguyur hujan dan kembali panas, akhirnya disaat hari mulai petang, saya tiba lagi ke Labuan Bajo. Sesampainya di Labuan Bajo, saya mencari penginapan untuk melepas malam di hari itu. Esok paginya, saya berkemas semua barang dan menuju tempat penyewaan motor untuk mengembalikan motor yang telah menemani saya untuk ke Denge.

Selepas dari penyewaan motor, saya berjalan kaki menuju kantor Kencana Adventure (-8.493436, 119.878198). Bersama Kencana Adventure ini saya akan melakukan pelayaran dari Labuan Bajo menuju Lombok selama 4 hari 3 malam. Kenapa saya memilih Kencana Adventure untuk perjalanan saya mengunjungi Taman Nasional Komodo? Karena saya menyesuaikan keuangan, pelayaran dengan Kencana berawal dari Labuan Bajo dan berakhir di Lombok, jadi menghemat biaya pesawat saya untuk pulang ke Jakarta. Selain itu, akan ada beberapa tempat yang dikunjungi diperjalanan menuju Lombok. Tapi jangan bayangkan tiap orang dapat kamar sendiri ya untuk harga yang saya bayarkan, ada harga yang dibayar ada fasilitas yang didapat. Bagi yang hanya ingin mengunjungi sekitar Taman Nasional Komodo, banyak penyedia jasa yang menawarkan paket sesuai kebutuhan hari dan orang.

Saya sudah pesan dari jauh-jauh hari, kemudian saya selesaikan urusan pendaftaran di kantornya. Total 13 orang melakukan perjalanan Labuan Bajo-Lombok, dan saya satu-satunya orang lokal (selain kru kapal ya). Berangkatlah kami menuju destinasi di hari pertama, yaitu Pulau Rinca (-8.653967, 119.715897) dan Pulau Komodo. Abang pemandunya bilang, dulu Pulau Rinca dan Pulau Komodo dibuat di hari yang berbeda, namun karena peraturan baru yang memberlakukan tiket Taman Nasional hanya berlaku untuk hari yang sama, maka dibuat lah dua pulau itu dalam satu hari. Yang menjadikan berbeda juga adalah, rute trekking yang diambil untuk mengeliling Pulau Rinca hanya medium. Diatas medium tidak disarankan karena akan menghabiskan waktu lebih lama sehingga waktu untuk mengunjungi Pulau Komodo juga terpotong.


 

 

This slideshow requires JavaScript.


Selepas Pulau Rinca, saatnya menuju Pulau Komodo (-8.568989, 119.501179). Dua pulau ini merupakan pulau terbesar dan utama untuk melihat Komodo di Taman Nasional Komodo. Aktivitas di Pulau Komodo juga sama dengan di Pulau Rinca yaitu trekking di pulau untuk melihat Komodo. Komodo ini hewan pemalas, kerjanya tidur-tiduran dibawah rumah panggung, gerak pun enggak. Tapi jangan diganggu kalau gak mau sebut Komodo jadi hewan buas. Trekking di Pulau Rinca dan Komodo harus menggunakan ranger dari Taman Nasional untuk menjelaskan, menjawab dan juga menjaga pengunjung. Saat melakukan trekking nampaknya sedang enggak beruntung, kami jarang melihat komodo apalagi yang sedang beraktifitas. Komodo yang kami lihat kebanyakan berada disekitar kantor Taman Nasional sedang tidur-tiduran (atau tidur beneran).

Kemudian kami kembali ke kapal dan melanjutkan ke Pulau Kalong (-8.613583, 119.486223) (pulau kecil yang banyak pohon dan kalong bergelantungan) untuk melihat matahari terbenam dan bermalam disana. Begitu menyenangkan untuk tidur menghadap langit bertabur bintang bersama angin semilir di dek kapal. Tersadar … Bagian 3



May 24-26, 2015. Day 4 to 6.

The next morning, I prepared to hike to Wae Rebo. I couldn’t do the hike alone because it is the regulation. You will need a guide assigned by Mr. Blasius and the guide isn’t for free meaning we need to allocate some money for the guide in advance or later. Registration is also obligatory in Blasius’ place before continuing to hike. Unfortunately, I hiked alone and the fee for the guide was the same if you go with yourself or with a group of 4 people. As far I remembered if you are a group of more than 4 people, the fee for the guide will be adjusted over the normal price according to the number of people. It took me about 3 to 4 hours and got to Wae Rebo.

Wae Rebo, once you get there, the chieftain will welcome you to a 10-15 minutes ceremony. The ceremony is kind of praying ritual that meant to keep us safe until we get back home. There, in Wae Rebo, I met a guide from Slovakia who has been to Wae Rebo for more than 10 times and some places in Indonesia. I met him again when I was in Bratislava, Slovakia. I had planned to stay overnight in Wae Rebo since I arranged to visit Flores even though I knew a few years back price in Wae Rebo had started being commercialized. They have one traditional house for staying visitors. The house is big enough to accommodate over than 30 people one time. Dinner and breakfast in the next morning were also provided yet do not expect food such in 5-stars hotel, you must be in a wrong place.


 

 

This slideshow requires JavaScript.


Savoring a cup of coffee from Wae Rebo coffee plantations and bathing from a waterfall with local porters and guides while the other guests had their waterfall to enjoy I spent in the day I got in Wae Rebo. The rest of the day I took pictures of the village, sat nicely and had a conversation. People believed that 1000 years back, inhabitants from West Sumatera sailed to Flores and searched place up on a mountain because they were escaping. Others said that populations in Wae Rebo were originally from Flores that settled the place from a long time ago. Another version of the beginning of Wae Rebo circulated. Regardless the fact of the authentic story of people in Wae Rebo, the first story claimed as the origin of inhabitants in Wae Rebo.

I am a lover of a night sky, moreover, a night sky clears from clouds and light pollution. A dark night sky without clouds and lights from the Earth with extra Milky Way and millions of stars, speechless. Wae Rebo had that lovely thing when I was there. There was a genset causing a little disturbance because turned on lights and generated electricity for those who needed. Yet, the lights weren’t causing much light pollution. Personally, I prefer to have no lights and electricity generated from the genset because that’s what I look for. Though, it couldn’t be denied people in Wae Rebo and visitors might need electricity. So, I couldn’t complain, I simply enjoyed. Time to sleep, to get my eyes and body recovered.

The night was getting late and the morning was coming. I needed to leave Wae Rebo and headed back to Labuan Bajo to have next schedule for my trip. Say goodbye to the chieftain of Wae Rebo, and walked back to Denge also to say goodbye to Mr. Blasius. I was ready with my rented motorcycle to kiss the same road back to Labuan Bajo. It wasn’t easy way back to get to Labuan Bajo, I took roughly 7 hours from Labuan Bajo to Denge.

This time occupied me approximately 6 hours to Labuan Bajo after the weather changed from rains and shines along the way, finally, when the day was nearly dark I got to Labuan Bajo. Arrived in Labuan Bajo I was looking around to find a place to crash for the night. The next morning I prepared my stuff and went to the place I rented my lovely motorcycle that had brought me successfully to Denge. Now it’s time to go to Kencana Adventure office (-8.493436, 119.878198). Kencana Adventure is a trip organizer which would take me on the sailing trip for 4 days 3 nights from Labuan Bajo to Lombok. Several spots were on the list to visit and the main point was Komodo Dragon National Park. I chose Kencana Adventure because suited my budget and saved me for the cost of the flight. The trip ended in Lombok meaning I only needed to buy a flight ticket from Lombok to Jakarta. Do not imagine if you go with Kencana Adventure and take the same package as I did you’ll get a room for your own or fancy facilities, big no. If you want to visit around Komodo National Park, you can go to Labuan Bajo and find a trip organizer with competitive price depending on how many days you want to spend on board and how many people going.


 

 

This slideshow requires JavaScript.


I booked this trip in advance and once got to the office, I completed the payment. 13 people were on the list and I was the only local joining, besides the ship crew members. Yeah, we sailed to the first destination on the first day of the sailing trip, Rinca and Komodo Islands. The guide said that the regulation to enter Komodo National Park had changed. Visitors need to pay the Komodo National Park entrance fee for each day if they want to visit Rinca Island (-8.653967, 119.715897) and Komodo Island on a different day. This caused we spent on two islands on that day and the duration to trek those islands could only be on the medium route. We weren’t allowed to take the longest route for the reason that time to spend in the next island wouldn’t be enough.

After Rinca Island, next, we went to Komodo Island (-8.568989, 119.501179). These two islands are the main and biggest islands in Komodo National Park to see Komodo dragon. The activity we did on Komodo Island was the same as on Rinca Island, trekking. Komodo dragon is a lazy animal, laying on the ground all day long and not even moving. But, do not try to disturb them if you don’t want to change from a lazy animal to a savage animal. Trekking on Komodo National Park needs to be guided by a ranger. Ranger functions to explain and answer about Komodo National Park and to keep visitors safe from the Komodo dragon. I think that day we weren’t lucky because we didn’t see many Komodo along the trek moreover Komodo doing exercises. We saw several Komodo under the stage house of Komodo National Park close to the jetty (and they were laying on the ground).

Back to the ship after trekking, we sailed to Kalong Island (-8.613583, 119.486223) (an island with a bunch of trees and hanging bats) to see the sunset and the bats were going out to find food. The ship anchored close to the island and stayed overnight there. It was so amazing to sleep on a deck of a ship and seeing the night sky so dark with a million of stars. Awesome!!. I opened my eyes and realized … Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: