a tiny piece of Flores [1/3]

Tidak jarang saya bertemu orang dari luar Indonesia, dan ketika mereka bertanya dari mana asal saya dan saya bilang Indonesia, beberapa dari mereka bilang bahwa mereka pernah ke Indonesia. “Kemana tepatnya di Indonesia”, saya tanya. “Bali”, begitu jawaban orang-orang tersebut. Ok. Ada juga yang menjawab pergi ke beberapa tempat di Sumatera (Medan dan Aceh, misalkan), Jawa (Yogyakarta misalnya) dan ada juga yang pergi lebih ke timur dari Bali (Lombok misalkan), namun gak banyak yang memilih untuk pergi ke tempat di Indonesia selain dari Bali, bagi mereka yang baru satu dua kali ke Indonesia, dari yang saya temui. Saya akui, Bali memang berikan sihirnya untuk memikat wisatawan untuk datang kesana dan menikmati keindahan alamnya. Jadi pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang pulau yang cantik yang berada lebih ke timur. Pulau apakah itu? Yak, betul. Flores.

Dua tahun yang lalu dari cerita ini ditulis, pada tahun Mei 2015, saya merencanakan untuk mengunjungi Flores karena saya begitu tersihir untuk bisa pergi lebih ke timur dari Lombok. Flores melintas di kepala saat itu karena dua hal, Wae Rebo (-8.769586, 120.283855) dan Komodo. Saya merencanakan perjalanan kurang lebih 9 hari dari berangkat hingga pulang. Rute perjalanan saya kala itu adalah Jakarta-Bali-Labuan Bajo-Lombok-Jakarta.

Mei 21-23, 2015. Hari ke 1 sampai ke 3.

Penerbangan dari Jakarta menuju Bali, dengan sengaja, saya ambil jadwal penerbangan paling malam hingga mendarat di bali dini hari, saya habiskan sisa malam dengan bermalam di mushola bandara (pilihan hemat untuk saya). Saya tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, karena pagi harinya saya sudah janjian dengan orang untuk sewa motor di bandara Ngurah Rai. Saya akan kelilingi Bali untuk satu hari. Amed, di Pantai Jemeluk (-8.338123, 115.660157) dengan kotak pos bawah lautnya, dan Ubud, (-8.506919, 115.262401) untuk kumpul dengan acara mingguan dari Couchsurfing dan bersantai, menjadi tujuan dikala itu. Setelahnya, kembali ke mushola yang sama di bandara Ngurah Rai untuk melepas malam (cukup menghemat pengeluaran).

Esok paginya, kembalikan motor sewaan dan bersiap untuk terbang menuju Labuan Bajo. Ini baru perjalanannya dimulai. Saya temui bahwa dalam pesawat dari Bali menuju Labuan Bajo dengan menggunakan pesawat ATR 72-600 dari Garuda Indonesia (ini bukan promo sumpah, tapi kalau Garuda mau bayar saya, saya terima, atau kasih tiket gratis), 80% persen penumpangnya adalah orang asing. Entah darimana-mana mereka gak saya survei. Penerbangan ini cukup menarik dengan pemandangan dibawah sana didominasi laut biru muda dan pulau-pulau. Sayangnya, lompat dari pesawat gak dibolehin. Mendarat di Labuan Bajo (-8.487588, 119.888623), cek situasi, pasang krim penolak gelap (baca: tabir surya; maklum, saya gak mau makin hitam dan menghindari kanker kulit nantinya), cari ojek menuju ke pusat keramaian di Labuan Bajo. Sampai di pusat keramaian, hal berikutnya adalah mencari toko yang menyewakan motor. Sewa motor selama 3 x 24 jam, bersiaplah saya melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo. Jalan aspal Trans Flores, dari Labuan Bajo sampai pertigaan sebelum berbelok ke arah Wae Rebo, sangatlah halus dan cantik sepanjang perjalanannya. Naik turun bukit dan persawahan mendominasi sepanjang perjalanan, dan terkadang saya berhenti hanya untuk menikmati dan mengambil beberapa gambar. Pilihan menggunakan motor saya ambil karena terkendala waktu, menuju Wae Rebo dapat dilakukan dengan kendaraan umum, namun seingat saya hanya dua atau tiga kali dalam sehari bus menuju desa Denge (-8.807853, 120.302203), desa terakhir sebelum berjalan kaki. Bus ini dari kota Ruteng (-8.614938, 120.466993) dan dapat dinaiki dari pertigaan yang menuju Wae Rebo di jalur Trans Flores. Untuk menuju pertigaan tersebut, bisa menaiki bus dari Labuan Bajo menuju Ruteng. Tapi jangan lupa untuk mencari jadwal bus tersebut.

Sesampainya di Denge hari sudah menuju gelap, saya tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo karena tidak diperbolehkan berjalan di malam hari. Jadi mau tidak mau saya bermalam di homestay milik Pak Blasius. Esok paginya … Bagian 2


 

 

This slideshow requires JavaScript.


On many occasions. I met foreigners and when they asked me where do I come from and Indonesia comes from my mouth, a bunch of them told me they’ve been to Indonesia. So, I asked, “where exactly have you been in Indonesia?”. The answer I got was “Bali”. Even some of them had been to several places in Sumatera (Medan and Aceh, for instance), Java (Yogyakarta, for example) and further to the east such Lombok. Not so many to choose to go to further east from Bali or Lombok, for them who have been to Indonesia for the first or second time to Indonesia, based on my own. I admit Bali gives its magic to attract people to come and enjoy the beauty of the island. This time, I would like to write about an island, an astonishing island, located further east. What is the island I talking about? Yeah, you’re right. Flores.

About couple years ago from when this story is being written, May 2015, I planned to visit Flores just because I was enchanted to travel far east from Lombok. An island came to my mind at the time which was Flores because of two things, Wae Rebo (-8.769586, 120.283855) and Komodo Dragon. I had planned 9 days of traveling and my route was Jakarta-Bali-Labuan Bajo-Lombok-Jakarta.

May 21-23, 2015. Day 1 to 3.

Going from Jakarta to Bali, I flew with the last flight intentionally so arrived in Bali at midnight and spent the rest of the night by sleeping in a small mosque in the airport to squeeze my budget. I didn’t directly set out to Labuan Bajo because my flight was in the morning the day after. I planned to make a day trip around Bali to Jemeluk Beach, Amed (-8.338123, 115.660157), with the submarine mailbox, and Ubud (-8.506919, 115.262401), to join a weekly meeting from Couchsurfing and relaxing. So, in the morning I met a guy from whom I rented a motorcycle. After, I went back to the same place as I did after I arrived in Bali, the small mosque to rest.

The second morning in Bali, returning the motorcycle to the guy, and was ready for the trip to Labuan Bajo. This was the point I certainly started my excursion. I found that on the airplane to Labuan Bajo using ATR 72-600 operated by Garuda Indonesia (this is not an advertisement, but if Garuda wants to pay or give me a free ticket, I would be happy to accept it), 80% of the passengers was foreigners. I didn’t make it to survey one by one where they were from. The flight was nice as the view was dominated by blue from the ocean and green from the cluster of islands. Unfortunately, I wasn’t allowed to jump out from the plane. Landed in Labuan Bajo airport (-8.487588, 119.888623), checked the situation, applied sunblock (I didn’t want to get darker than I was and to avoid skin cancer), tried to find an ‘ojek’ (motorcycle cab) to go to the crowd in the city. Once hit the crowd in Labuan Bajo, next thing to do was looking for a store that could rent out a motorcycle. I rented a motorcycle for 3 x 24 hours and was ready to continue going to Wae Rebo with the lovely motorcycle. Flores has a road called Trans Flores which cut across the island from the west to the east. Trans Flores was really smooth and the scenery along the way was awesome. It runs through rice fields and hills, sometimes I stopped only for taking pictures. The way from Labuan Bajo to Wae Rebo is simply following Trans Flores till a T junction with a sign to the right to Wae Rebo. Option to ride a motorcycle was because taking public transport to reach Wae Rebo didn’t fit my schedule. There is a bus that goes to Denge (-8.807853, 120.302203), last village before walking to Wae Rebo, yet in a day is only two or three times. This bus starts at Ruteng (-8.614938, 120.466993) and can be stopped at the T junction before turn right to Wae Rebo if you are coming from Labuan Bajo. To reach the T junction, take a bus from Labuan Bajo heading to Ruteng. Acknowledge yourself the schedule of the bus.

Arrived in Denge the day went dark, I couldn’t hike to Wae Rebo directly because it’s the regulation to not allow visitors hike during the night. Whether I wanted it or not, I needed to stay in Denge for a night and it should be in homestay owned by Mr. Blasius. The next morning … Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: